Beranda | Artikel
Metode Penanaman Aqidah pada Anak: Keimanan kepada Malaikat
12 jam lalu

Metode Penanaman Aqidah pada Anak: Keimanan kepada Malaikat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 22 Sya’ban 1447 H / 10 Februari 2026 M.

Kajian Tentang Metode Penanaman Aqidah pada Anak: Keimanan kepada Malaikat

Penanaman keyakinan ini bertujuan untuk meneguhkan rasa muraqabah (merasa diawasi oleh Allah) dan menumbuhkan rasa malu (al-haya). Dalam konteks pendidikan reproduksi atau tarbiyah jinsiyyah, rasa malu ini sangat krusial. Anak harus menyadari bahwa ia tidak pernah sendirian; ada makhluk mulia yang bersamanya.

Sebagai teladan, Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu adalah sahabat yang dikenal memiliki rasa malu yang sangat tinggi hingga malaikat pun malu terhadapnya.

Anak perlu memahami bahwa malaikat memiliki tugas khusus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti menyertai manusia, mencatat amal perbuatan, hingga mendoakan serta bershalawat untuk orang-orang beriman.

Perang Antara Bisikan Malaikat Dan Godaan Setan

Setiap manusia memiliki pendamping atau bithanah yang memengaruhi hatinya. Terdapat bithanatus su’ berupa jin atau setan yang mengajak pada keburukan, dan bithanatul khair berupa malaikat yang bertindak sebagai penasihat dari Allah di dalam hati setiap mukmin.

Saat seseorang hendak melakukan keburukan, sering kali muncul gejolak atau “teriakan” di dalam hati yang menyatakan bahwa tindakan tersebut salah. Itulah peran malaikat yang mengimbangi pengaruh setan. Jika seseorang masih merasakan keraguan saat akan berbuat jahat, itu adalah tanda adanya peringatan dari malaikat. Sebaliknya, hati yang sudah mati tidak lagi merasakan kegelisahan tersebut dan terus melakukan kemaksiatan tanpa rasa bersalah.

Oleh karena itu, sifat muraqabah dan rasa malu harus terus dipupuk sejak kecil sesuai dengan pesan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi)

Mengenal Permusuhan Sengit Dengan Iblis

Selain mengenal malaikat, anak-anak juga harus diajarkan tentang permusuhan sengit antara manusia dan iblis. Setan adalah musuh nyata yang tidak perlu diragukan lagi kebenciannya kepada manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu).” (QS. Fatir[35]: 6)

Anak-anak harus dilatih sejak dini untuk siap bermusuhan dengan setan. Salah satu tipu daya setan yang paling berbahaya adalah mengajak manusia untuk mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam konteks tarbiyah jinsiyyah, hal ini berarti setan berusaha mengeluarkan manusia dari fitrahnya, baik sebagai manusia maupun fitrah sesuai jenis kelaminnya.

Upaya laki-laki yang ingin mengubah fitrah menjadi perempuan, atau sebaliknya, merupakan langkah-langkah setan untuk merusak ciptaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai sumpah setan:

فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ

“Mereka akan mengubah-ubah mengajak manusia untuk mengubah-ubah ciptaan Allah.” (QS. An-Nisa`[4]: 119)

Materi ini harus disampaikan kepada anak-anak dengan bahasa yang mudah dipahami agar mereka mengerti adanya musuh yang senantiasa mengintai dan mereka harus tetap teguh di atas fitrah yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan.

Sifat hati-hati dan waspada harus ditanamkan kepada anak sejak usia dini agar mereka tidak mudah dikalahkan oleh musuh yang nyata. Banyak orang saat ini memiliki hati yang menyerah dan tidak berdaya menghadapi godaan karena kurangnya penanaman iman sejak kecil. Tidak cukup bagi anak hanya mengetahui keberadaan malaikat sebagai pendamping; mereka juga harus diajarkan bahwa ada musuh yang wajib diperangi, yaitu Iblis dan bala tentaranya.

Meskipun manusia tidak dapat melihat setan secara kasat mata, kewaspadaan harus tetap dijaga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia (Iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu arah yang kamu tidak dapat melihat mereka.” (QS. Al-A’raf[7]: 27)

Pendidikan ini bertujuan agar anak-anak memiliki kekuatan mental untuk melawan bisikan-bisikan negatif serta tidak merasa takut secara berlebihan kepada Iblis, melainkan memiliki keberanian untuk melawannya dengan perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Gangguan Iblis dan bala tentaranya terhadap anak Adam dimulai sejak detik pertama manusia lahir ke dunia. Gangguan ini nyata dan berlangsung tanpa jeda. Bahkan sebelum seorang anak lahir, Islam telah mengajarkan pencegahan melalui doa sebelum berhubungan suami istri. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa jika pasangan membaca doa sebelum berhubungan dan ditakdirkan memiliki anak dari hubungan tersebut, maka anak itu tidak akan diganggu oleh setan selamanya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya membentengi diri dan keluarga dari pengaruh buruk setan sejak dini.

Pentingnya Majelis Ilmu Khusus Anak

Penanaman nilai-nilai aqidah ini sering kali tidak didapatkan di sekolah formal, sehingga orang tua perlu menggalakkan kajian atau majelis ilmu yang khusus didesain untuk anak-anak. Orang tua memang memiliki peran utama, namun diperlukan dukungan dari lingkungan luar melalui majelis ilmu yang sesuai dengan tingkatan usia mereka.

Majelis ilmu untuk dewasa sering kali tidak dapat diserap manfaatnya secara maksimal oleh anak-anak karena perbedaan fokus materi. Oleh karena itu, penting untuk menghadirkan kajian yang memang ditujukan bagi mereka. Sebagaimana dahulu para wanita di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta waktu khusus untuk belajar, maka anak-anak pun memiliki kebutuhan yang sama akan ilmu agama yang mendalam.

Ilmu yang didapatkan di sekolah atau di pondok pesantren sekalipun tidak menggantikan kebutuhan akan keberkahan majelis ilmu. Orang tua tidak boleh merasa cukup hanya dengan pendidikan formal. Kehadiran anak dalam majelis ilmu akan membentuk karakter dan memperkuat benteng pertahanan mereka dalam menghadapi tantangan zaman dan godaan setan.

Para panitia kajian hendaknya memberikan perhatian khusus terhadap penyelenggaraan majelis ilmu bagi anak-anak. Selama ini, kegiatan dakwah sering kali hanya terfokus pada daurah atau pengajian untuk orang dewasa. Kondisi ini membuat anak-anak kurang tersentuh oleh materi yang sesuai dengan tingkatan usia mereka.

Anak-anak yang diajak orang tua ke majelis ilmu dewasa sering kali menjadi sumber kegaduhan karena materi yang disampaikan tidak dirancang untuk mereka. Akibatnya, mereka sering dimarahi atau dijadikan kambing hitam atas ketidaktertiban di dalam masjid. Hal ini memicu larangan bagi orang tua untuk membawa anak saat kajian. Padahal, anak-anak sangat membutuhkan majelis ilmu yang didesain khusus agar mereka bisa mendapatkan pemahaman agama yang tepat di samping arahan dari orang tua.

Memupuk Kecintaan Kepada Al-Qur’an

Menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an merupakan bagian dari rukun iman, yaitu beriman kepada kitab-kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan untuk umat manusia dan berfungsi sebagai pengunci kitab-kitab sebelumnya. 

Membangun kecintaan anak terhadap Al-Qur’an tidak terbatas pada kemampuan membaca dan menghafal. Orang tua perlu mulai mengajarkan kandungan Al-Qur’an yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti bahasan mengenai hewan, gunung, laut, dan sungai. Pendekatan ini akan memancing rasa ingin tahu anak untuk terus mentadaburi wahyu Ilahi.

Dengan mengenalkan kemukjizatan Al-Qur’an melalui fenomena alam (ayat kauniyah) yang didukung oleh teks wahyu (ayat syariah), rasa cinta anak terhadap keagungan Al-Qur’an akan tumbuh secara alami.

Dahulu, masyarakat musyrik Quraisy merasa bingung saat berhadapan dengan Al-Qur’an. Di satu sisi, mereka menolak seruan untuk meninggalkan berhala, namun di sisi lain mereka sangat takjub dengan gaya bahasa Al-Qur’an yang mengalahkan keindahan syair-syair terbaik mereka. Mereka menyadari bahwa Al-Qur’an bukanlah buatan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena beliau tidak pernah dikenal sebagai penyair sebelumnya. Padahal, pada masa itu, syair merupakan standar intelektual dan budaya yang sangat tinggi.

Meskipun saat ini banyak orang, terutama yang bukan orang Arab, sulit merasakan kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi keindahan sastranya, Al-Qur’an tetap menjadi mukjizat yang tidak lekang oleh waktu. Jika dahulu kekuatannya terletak pada gaya bahasa, kini kemukjizatannya terus terbukti melalui ilmu pengetahuan yang semakin berkembang. 

Zaman boleh berubah, namun Al-Qur’an akan tetap menjadi mukjizat yang menakjubkan bagi siapa pun yang bersedia menyelami kandungannya. 

Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Diturunkan oleh Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fussilat[41]: 42)

Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, masyarakat Quraisy takjub dan berbondong-bondong masuk Islam karena keindahan gaya bahasa Al-Qur’an yang melampaui syair-syair mereka. Namun, pada masa kini, banyak orang takjub terhadap Al-Qur’an karena kandungan isinya. Meskipun telah diturunkan sejak 15 abad yang lalu, Al-Qur’an memuat fakta-fakta ilmu pengetahuan yang akurat dan bersesuaian dengan penemuan modern.

Salah satu contohnya adalah penjelasan mengenai fase-fase penciptaan manusia secara terperinci. Hal ini hanya dapat dibuktikan kebenarannya setelah ditemukannya alat-alat canggih seperti mikroskop pada era modern.

Menggali Kandungan Wahyu Untuk Generasi Muda

Anak-anak harus dirangsang untuk mencintai Al-Qur’an tidak hanya sebatas mahir melantunkan atau menghafalnya, tetapi juga dengan menggali samudera ilmu di dalamnya. Kita dapat meneladani Imam Syafi’i yang mampu mengeluarkan ribuan faedah hanya dari satu ayat. Fokus pada kandungan ayat inilah yang akan membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat yang tidak ada habisnya.

Kemajuan teknologi saat ini justru semakin membuka hakikat ilmiah yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Oleh karena itu, panitia kajian sebaiknya tidak hanya sibuk menyelenggarakan festival atau pasar, tetapi mulai memikirkan kajian khusus untuk anak-anak dan remaja. Materi dapat disusun dengan mengupas ayat-ayat tentang hewan atau fenomena alam yang disampaikan oleh pengajar yang mampu berkomunikasi baik dengan dunia anak-anak.

Menanamkan Cinta Kepada Nabi Dan Sunnah

Langkah selanjutnya dalam mendidik anak adalah mengarahkan mereka untuk mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta sunnah-sunnah beliau. Kecintaan ini dibangun melalui pengenalan sosok Nabi, mulai dari sifat fisik hingga karakter dan akhlak beliau yang mulia. 

Akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah cerminan dari isi Al-Qur’an itu sendiri. Hal ini sebagaimana penuturan Aisyah radhiallahu ‘anha ketika ditanya mengenai akhlak beliau:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim)

Melalui pemahaman atas keseharian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terutama dalam menjalin hubungan antar sesama manusia (hablum minannas), dengan mengenal profil beliau secara mendalam, anak akan memiliki alasan yang kuat untuk mengagumi dan mencintai beliau, bukan sekadar cinta buta tanpa dasar.

Cinta yang ditanamkan kepada anak-anak terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak boleh menjadi cinta buta. Cinta buta bersifat labil; ia mudah berubah menjadi benci ketika berhadapan dengan sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan atau syahwat. 

Kecintaan ini dapat ditumbuhkan melalui pengenalan sunnah-sunnah keseharian beliau. Para ulama telah banyak menulis rujukan mengenai amal sehari semalam (Amalul Yaum wal Lailah), seperti Imam An-Nasa’i, Ibnu Sunni, atau Imam At-Tirmidzi dalam kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyah. Melalui kitab-kitab tersebut, anak-anak diajarkan bagaimana menjalani keseharian sesuai tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan memahami dasar tindakannya, seorang anak tidak akan menjalankan sunnah sekadar sebagai rutinitas yang latah, melainkan sebagai bentuk ketaatan yang berdasar.

Menjelaskan Hikmah Di Balik Sunnah

Dalam mendidik, penting bagi orang tua untuk menjelaskan alasan di balik suatu anjuran. Sebagai contoh, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan umatnya untuk tidur siang (qailulah). Beliau tidak hanya memberi perintah, tetapi juga menjelaskan alasannya, yakni untuk menyelisihi setan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

قِيلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَا تَقِيلُ

“Tidurlah siang (qailulah), karena sesungguhnya setan itu tidak tidur siang.” (HR. At-Thabrani)

Penyampaian pesan yang disertai argumentasi atau dalil akan membuat anak tidak mudah meninggalkan kebiasaan tersebut. Tanpa pemahaman, anak mungkin akan merasa lebih baik bermain daripada tidur siang. Namun, ketika mereka tahu bahwa hal tersebut adalah upaya untuk tidak menyerupai setan, mereka akan melakukannya dengan penuh kesadaran.

Teladan Nabi Dalam Mendidik Anak

Pendekatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam meluruskan kesalahan anak sangat patut diteladani. Beliau tidak pernah mengusir anak-anak atau melarang sesuatu tanpa penjelasan. Salah satu peristiwa yang masyhur adalah saat cucu beliau, Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma, mengambil sebutir kurma dari zakat untuk dimakan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam segera melarangnya dengan memberikan penjelasan ilmiah dan syar’i, meskipun Hasan saat itu masih kanak-kanak. 

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak sekadar menyuruh pergi, tetapi beliau menanamkan prinsip bahwa keluarga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak halal memakan harta zakat. Hal ini membantah kekeliruan banyak orang tua yang enggan berdiskusi dengan anak karena menganggap mereka belum mengerti.

Orang tua seringkali terjebak pada kata “pokoknya tidak boleh” tanpa mau menjelaskan hikmahnya. Padahal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan agar kita telaten dan sabar dalam menyampaikan ilmu. Terutama saat anak mulai beranjak remaja dan memiliki daya kritis, penjelasan yang logis dan berdasarkan dalil akan jauh lebih mendidik daripada sekadar larangan sepihak.

Kisah inspiratif datang dari Abul Aswad Ad-Dualiy, seorang tabi’in sekaligus murid Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau pernah bertanya kepada Al-Hasan bin Ali mengenai kenangan masa kecil yang paling berkesan saat bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al-Hasan kemudian menceritakan sebuah peristiwa di masjid ketika beliau mengambil sebutir kurma zakat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghampirinya, mengambil kurma tersebut, lalu meletakkannya kembali sambil memberikan penjelasan singkat namun padat.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّا لَا تَحِلُّ لَنَا الصَّدَقَةُ

“Sesungguhnya tidak halal bagi kami (keluarga Muhammad) memakan harta zakat.” (HR. Muslim)

Penjelasan tersebut terbukti tidak sia-sia. Al-Hasan terus mengingatnya sebagai ilmu yang berharga sepanjang hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa mendidik anak memerlukan kesabaran dalam menyampaikan argumentasi. Anak-anak sebaiknya dilatih untuk menerima alasan logis dan syar’i agar mereka memahami dasar dari sebuah larangan atau perintah.

Orang tua tidak boleh menganggap remeh daya rekam anak-anak. Anak adalah perekam yang sangat kuat, bahkan memori tersebut tersimpan di alam bawah sadar mereka. Inilah sebabnya mengapa luapan amarah yang berlebihan kepada anak sangat berbahaya, karena bekasnya sulit hilang dan memori tersebut bisa muncul kembali secara spontan di masa depan. Ilmu yang disampaikan dengan cara yang benar pun akan menetap secara permanen dalam ingatan mereka.

Pendidikan Nabi Kepada Usia Remaja

Metode pendidikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berbasis argumentasi juga diterapkan kepada para remaja. Salah satu contohnya adalah Usama bin Zaid radhiallahu ‘anhu. Di usia remaja, tepatnya lima belas tahun, Usama telah diizinkan ikut berperang. Suatu ketika, dalam sebuah peperangan, Usama melakukan kesalahan fatal dengan membunuh seseorang yang telah mengucapkan kalimat Lailahaillallah.

Mendengar laporan tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak sekadar memarahi Usama secara emosional. Beliau memberikan pelajaran melalui sebuah pernyataan yang menggugah nurani. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya:

كَيْفَ تَصْنَعُ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِذَا جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ 

“Bagaimana kamu berhadapan dengan kalimat lailahaillallah itu pada hari kiamat nanti?” (HR. Muslim)

Pelajaran ini begitu membekas sehingga Usama tidak pernah melupakannya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mematahkan semangatnya dengan melarangnya ikut berperang lagi, melainkan terus mengasah bakatnya sambil menanamkan prinsip yang sangat kuat. Dampak dari pendidikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut terlihat jelas sepeninggal beliau. Ketika terjadi konflik dan perselisihan di antara kaum muslimin yang berujung pada pertumpahan darah mengenai perselisihan di antara para sahabat, kita tidak sepatutnya mencampuri urusan tersebut karena mereka adalah para mustajid. 

Usama bin Zaid termasuk di antara sahabat yang memilih untuk tidak terlibat.  Beliau memegang teguh pelajaran dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai kesucian nyawa seorang muslim.

Fenomena ini menegaskan bahwa orang tua dan pendidik harus memberikan jawaban dan alasan yang memadai ketika anak-anak bertanya “mengapa”. Kebiasaan menjawab dengan kata “pokoknya” harus ditinggalkan karena anak membutuhkan jawaban yang memuaskan akal dan hatinya. Begitulah cara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membangun generasi, baik dari usia kanak-kanak maupun remaja.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56070-metode-penanaman-aqidah-pada-anak-keimanan-kepada-malaikat/